Membaca Sastra dan Membaca Politik Bangsa dalam Podcast Belantara  Eps. 18

Sasindo – Politik dan Sastra merupakan dua kutub yang berbeda namun dapat disatukan pada sebuah medium bahasa. Keterhubungan mengenai dua hal ini sudah jadi topik bahasan para pembaca sastra. Berangkat dari sini, Podcast Belantara Episode 18 membicarakan lebih jauh sastra bukan sekedar objek bacaan sekali duduk saja. Namun sastra sebagai objek berpengaruh terhadap dinamika politik negara.

Episode kali ini mengajak salah satu Mahasiswa Sastra Indonesia, sekaligus pembaca sastra, William Breadley Cristianto. Yang dalam pandangannya, narasi sebagai mahasiswa sastra yang pasti akan jadi sastrawan adalah keliru. Padahal mahasiswa sastra diarahkan sebagai pembaca yang kritis. Pembaca yang mampu membaca pengaruh sastra lebih jauh, yang dalam spektrum yang lebih luas akan bersinggungan dengan politik bangsa. Hal tersebut memiliki dampak yang besar, seperti yang terlihat pada novel-novel bertema politik dan sejarah, misalnya Laut Bercerita atau Ronggeng Dukuh Paruk.

Mahasiswa sastra idealnya dididik untuk menjadi kritikus sastra yang mampu membedah karya. Banyak karya sastra yang telah menjadi saksi, kebijakan politik yang turut memengaruhi distribusi karya. Banyak buku disita, bahkan banyak sastrawan yang dipernjara. Hal ini merupakan bagian dari kehidupan sastra yang dekat bahkan bersinggungan dengan politik.

Simak lebih jauh pembahasan antara sastra dan politik, serta kemungkinan-kemungkinan yanh terjadi di antara keduanya hanya di Podcast Belantara https://youtu.be/i7UVcTbgCBQ?si=ohHNO5pMG5ElzJ7n

Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., selaku Ketua Prodi Sastra Indonesia FIB Undip, mendukung penuh kegiatan Podcast Belantara dan mengapresiasi pemikiran kritis mahasiswa. Beliau berharap ini akan menjadi inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswi lainnya untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan di Prodi Sastra Indonesia lainnya.